Rabu, 27 Juni 2012

PENDEKATAN TEORI SOSIOLOGI DALAM PRANATA KELUARGA


PENDEKATAN TEORI SOSIOLOGI
DALAM PRANATA KELUARGA
Pendahuluan
Keluarga merupakan lembaga sosial pertama dan dasar dari semua lembaga-lembaga sosial lainnya yang berkembangan dalam masyarakat luas. Di masyarakat manapun di dunia, keluarga merupakan kebutuhan manusia yang universal dan menjadi pusat terpenting dari kegiatan dalam kehidupan individu. Keluarga dapat digolongkan ke dalam kelompok penting, selain karena para anggotanya saling mengadakan kontak langsung juga karena adanya keintiman dari para anggotanya.
Pranata keluarga merupakan sistem norma dan tata cara yang diterima untuk menyesuaikan beberapa tugas penting. Keluarga berperan membina anggota-anggotanya untuk beradaptasi dengan lingkungan fisik maupun lingkungan budaya di mana ia berada. Bila semua anggota sudah mampu untuk beradaptasi dengan lingkungan di mana ia tinggal, maka kehidupan masyarakat akan tercipta menjadi kehidupan yang tenang, aman dan tenteram.
Intisari pengertian keluarga, yaitu sebagai berikut:
1.  Keluarga merupakan kelompok sosial kecil yang umumnya terdiri atas ayah, ibu, dan anak,
2.  Hubungan sosial di antara anggota keluarga relatif tetap dan didasarkan atas ikatan darah, perkawinan dan / atau adopsi,
3.  Hubungan antar anggota keluarga dijiwai oleh suasana afeksi dan rasa tanggung jawab, dan
4.  Fungsi keluarga adalah memelihara, merawat, dan melindungi anak dalam rangka sosialisasinya agar mereka mampu mengendalikan diri dan berjiwa sosial.
Beberapa Pendekatan Teori Sosiologi Dalam Keluarga
1.    Teori Struktural Fungsional. Ritzer (2009: 21) konsep utama dalam teori ini adalah fungsi, disfungsi, fungsi laten, fungsi manisfest, dan keseimbangan (equilibrium). Menurut teori ini masyarakat adalah suatu sistem sosial yang terdiri atas bagian-bagian yang saling berkaitan dan menyatu dalam keseimbangan. Perubahan yang terjadi pada satu bagian akan mempengaruhi akan membawa perubahan pula terhadap bagian yang lain. Asumsi dasarnya bahwa setiap struktur dalam sistem sosial, fungsional terhadap yang lain. Sebaliknya, jika tidak fungsional maka struktur tidak akan nada atau akan hilang dengan sendirinya. Penganut teori ini cenderung melihat hanya kepada sumbangan satu sistem atau peristiwa terhadap sistem yang lain dan karena itu mengabaikan kemungkinan bahwa suatu peristiwa dapat beroperasi menentang fungsi-fungsi lainnya dalam suatu sistem sosial. Secara ekstrim penganut teori ini beranggapan bahwa semua peristiwa dan semua struktur adalah fungsional bagi suatu masyarakat.
Keluarga sebagai lingkungan pertama seorang anak mendapatkan didikan dan bimbingan. Juga dikatakan lingkungan yang utama, karena sebagian besar dari kehidupan anak adalah di dalam keluarga, sehingga pendidikan yang paling banyak diterima oleh anak adalah dalam keluarga. Sehingga keluarga yang merupakan institusi sosial yang bersifat universal dan multifungsional mempunyai fungsi pengawasan, sosial, ekonomi, pendidikan, keagamaan, perlindungan, dan rekreasi terhadap anggota-anggotanya.
Sebagaimana para penganut teori struktural fungsional melihat masyarakat dengan menganalogikan masyarakat ibarat organisme biologis. Makhluk hidup yang bisa sehat atau sakit. Ia sehat jika bagian-bagian dari dirinya (kelompok/individu fungsional) memiliki kebersamaan satu sama lain. Jika ada bagiannya yang tidak lagi menyatu secara kolektif, maka kesehatan dari masyarakat tersebut terancam, atau sakit. Demikian halnya juga dalam keluarga yang terdiri dari anggota-anggota keluarga yang saling berhubungan satu sama lain dan fungsional terhadap anggota keluarga lainnya. Bahwa pada umumnya, keluarga terdiri dari ayah, ibu dan anak dimana masing-masing anggota keluarga tersebut saling mempengaruhi, saling membutuhkan, semua mengembangkan hubungan intensif antar anggota keluarga.
Misalnya fungsi ekonomi keluarga, dalam keluarga terdapat pembagian kerja yang disesuaikan dengan status, peranan, jenis kelamin, dan umur anggota-anggota keluarga.  Ayah sebagai kepala rumah tangga fungsional terhadap istri dan anak-anaknya. Bagi keluarga pada umumnya ayah mempunyai peranan dan tanggung jawab utama dalam pemenuhan kebutuhan material para anggota keluarganya, meskipun para anggota keluarga lain (ibu dan anak-anak sudah dewasa) juga bekerja. Disamping fungsional, Robert K.Merton dalam Ritzer (2009: 22) juga mengajukan konsep disfungsi dalam struktur sosial atau pranata sosial. Bahwa dalam suatu pranata sosial selain menimbulkan akibat-akibat yang bersifat positif juga ada akibat-akibat bersifat negatif. Masih terhubung dengan contoh di atas, bahwa seorang ayah bisa disfungsi terhadap anggota-anggota keluarga lain (istri dan anak-anaknya). Dimana ayah tidak menjalankan peranan dan tanggung jawabnya sebagai pencari nafkah utama dalam keluarganya. Jika hal tersebut terjadi dalam suatu keluarga maka akan mengganggu sistem yang ada dalam keluarga, membuat fungsi ekonomi keluarga mengalami pergeseran.
2.    Teori Konflik. Tidak dapat dipungkiri dalam suatu lembaga keluarga tidak selamanya akan berada dalam keadaan yang statis atau dalam kondisi yang seimbang (equilibrium), namun juga mengalami kegoncangan di dalamnya. Menurut teori konflik masyarakat senantiasa berada dalam proses perubahan yang ditandai oleh pertentangan yang terus-menerus di antara unsur-unsurnya (Ritzer, 2009:26). Pertentangan (konflik) bisa terjadi antara anggota-anggota dalam keluarga itu sendiri, ataukah antara keluarga yang satu dengan keluarga yang lain.
 Menurut teori konflik Dahrendrof mengatakan bahwa konflik menurutnya memimpin ke arah perubahan dan pembangunan. Dalam situasi konflik golongan yang terlibat melakukan tindakan-tindakan untuk mengadakan perubahan dalam struktur sosial. Kalau konflik itu terjadi secara hebat maka perubahan yang timbul akan bersifat radikal. Begitu pula kalau konflik itu disertai oleh penggunaan kekerasan maka perubahan struktural akan efektif (Ritzer, 2009:28).
Para penganut teori konflik mengakui bahwa konflik dapat memberikan sumbangan terhadap integrasi dan sebaliknya integrasi dapat menimbulkan konflik. Berghe dalam Ritzer (2009:29) mengemukakan empat fungsi dari konflik sebagai berikut:
a.       Sebagai alat untuk memelihara solidaritas,
b.      Membantu menciptakan ikatan aliansi dengan kelompok lain,
c.       Mengaktifkan peranan individu yang semula terisolasi. (Protes terhadap perang Vietnam mendorong pemuda AS untuk aktif berkampanye untuk Mc. Carthy dan Mc. Govern yang anti perang tersebut),
d.      Fungsi komunikasi. Sebelum konflik kelompok tertentu mungkin tidak mengakui posisi lawan. Tapi dengan adanya konflik, posisi dan batas antara kelompok menjadi lebih jelas. Individu dan kelompok tahu secara pasti di mana mereka berdiri dan karena itu dapat mengambil keputusan lebih baik untuk bertindak dengan lebih tepat.
Misalnya dalam sebuah keluarga terjadi konflik atau pertentangan antara anggota keluarga (kakak dan adiknya), kemudian di luar lingkungan keluarganya mereka memiliki musuh yang sama. Maka mereka terintegrasi dalam melawan musuhnya tersebut dengan mengabaikan konflik internal antara mereka. Dalam keluarga yang broken home, di mana sering terjadi percekcokan di antara orang tua dan saling bermusuhan disertai tindakan-tindakan yang agresif, maka dengan sendirinya keluarga yang bersangkutan akan mengalami kegagalan dalam menjalankan fungsi-fungsi keluarga yang sebenarnya.
3.    Teori Interaksionis Simbolik. Menurut Herbert Blumer (1962) seorang tokoh modern dari Teori Interaksionisme Simbolik dalam Ritzer (2009:52) mengungkapkan bahwa istilah interaksionisme simbolik menunjuk kepada sifat khas dari interaksi antar manusia. Kekhasannya adalah manusia saling menerjemahkan dan saling mendefinisikan tindakannya. Tanggapan seseorang tidak dibuat secara langsung terhadap tindakan orang lain, melainkan didasarkan pada “makna” yang diberikan terhadap tindakan orang lain itu. Interaksi antara individu diantarai oleh penggunaan simbol-simbol, interpretasi atau dengan saling berusaha untuk saling memahami maksud dari tindakan masing-masing. Jadi dalam interaksionisme simbolik bahwa dalam proses interaksi individu dimulai dari suatu proses stimulus secara otomatis dan langsung menimbulkan respon oleh si aktor. Tetapi antara stimulus dan respon atau tanggapan diantarai oleh proses interpretasi. Proses interpretasi adalah proses berpikir yang merupakan kemampuan yang khas yang dimiliki manusia.
Secara sederhana dapat digambarkan suatu proses interaksi yang terjadi dalam lembaga keluarga yang dimulai dengan adanya proses stimulus kemudian respon atau tanggapan. Dalam masyarakat dikenal simbol komunikasi. Ritzer (2009:55) mengemukakan simbol komunikasi merupakan proses dua arah di mana kedua pihak saling memberikan makna atau arti terhadap simbol-simbol itu. Dengan mempelajari simbol-simbol tersebut berarti manusia belajar melakukan tindakan  secara bertahap. Dalam lembaga keluarga juga dikenal simbol komunikasi, sehingga antara anggota keluarga saling memahami dan mengerti tindakan anggota keluarga lainnya.
Contoh seorang kakek memerintahkan cucunya untuk mengambilkan obatnya di dalam kamar kakek. Cucu tersebut mendengarkan perintah kakek dan melaksanakan perintah kakeknya dengan mengambilkan obat itu. Ini artinya si kakek memberikan stimulus kemudian secara tidak langsung si cucu menerima stimulus itu dan selanjutnya memberikan tanggapan atau respon atas stimulus dari si kakek.  Contoh lain, ketika seorang kakak memukul adiknya, kemudian sang adik menangkis pukulan tersebut maka terjadi proses interaksi antara kedua kakak adik tersebut. Ataukah seorang datang ke rumah kemudian memberikan salam, orang dalam rumah menjawab salam tersebut dan mempersilahkannya masuk. Ada simbol bahasa yang digunakan yang menandakan ada orang yang bertamu ke rumah tersebut.
 Dari pendekatan ketiga teori sosiologi yang dipaparkan di atas yakni teori struktural fungsionalis, teori konflik, dan teori interaksionisme simbolik terhadap lembaga keluarga, masing-masing sangat jelas mendiskripsikan proses sosial yang terjadi dalam keluarga. Bahwa dalam sebuah keluarga ada fungsi dan disfungsi yang terjadi antara anggota keluarga. Dalam keluarga pun sering terjadi pertentangan (konflik) internal maupun eksternal anggota keluarga. Dan sebagai lembaga sosialisasi pertama (lembaga keluarga) dimana di dalamnya terdapat proses interaksi antara anggota keluarga sehingga ada kesepahaman dan tercipta keharmonisan dalam keluarga itu.
Menurut saya ketiga pendekatan tersebut masih terdapat dalam lembaga keluarga saat sekarang. Hal ini terlihat terjelas dalam kehidupan sehari-hari individu sebagai anggota dalam lembaga keluarga. Meskipun pada dasarnya keluarga yang mempunyai fungsi antara lain: biologis, afeksi, pendidikan, ekonomi, sosialisasi, keagamaan, dan perlindungan sudah mengalami perubahan (pergeseran). Berbicara yang mana ketiga pendekatan yang telah disebut sebelumnya lebih menarik? Penulis menitikberatkan pada pendekatan konflik dalam keluarga, karena dalam realitas sekarang begitu banyak suami istri yang bercerai akibat terjadinya perubahan sosial ekonomi dalam masyarakat.
Proses perubahan ekonomi pada masyarakat industri telah mengubah sifat keluarga, dari institusi pedesaan yang agraris menuju ke institusi perkotaan yang bernuansa industrialis. Dengan demikian peranan anggota-anggota keluarga juga mengalami perubahan. Fungsi produksi hilang, keluarga menjadi kesatuan konsumsi semata-mata. Keluarga di kota tidak lagi melakukan fungsi produksi langsung.
Fenomena sosial tersebut dapat kita lihat pada masyarakat perkotaan yang memiliki kesibukan yang cukup padat. Seorang ibu yang memiliki jam kerja yang begitu padat sehingga tidak sempat untuk mendidik anaknya terpaksa menitipkan anaknya kepada pembantu, pengasuh anak atau pada lembaga pendidikan non formal. Fenomena tersebut menjelaskan bahwa ada peralihan fungsi yang di mana keluarga yang menjadi tempat sosialisasi yang utama berpindah pada lembaga pendidikan non formal atau orang lain yang mempunyai kapabilitas dalam hal tersebut. Dengan kata lain ibu tersebut meninggalkan fungsi sebagai ibu rumah tangga yakni pengasuh anak-anaknya.
Fenomena tersebut di atas dapat mengganggu proses pertumbuhan anak terutama dalam hal sosialisasi. Lembaga keluarga sebagai media sosialisasi pertama anak menjadi tidak berfungsi atau akan hilang. Selain itu, fenomena ini bisa juga mendatangkan konflik dalam rumah tangga tersebut. Ketika anak mengalami kegagalan maka orang tua (suami dan istri) akan saling menuduh. Terjadi pertengkaran antara suami dan sitri. Mungkin juga berakhir pada perceraian suami dan istri tersebut, karena sudah tidak ada lagi kecocokan antara mereka. Akibatnya anak mengalami tekanan psikologis (depresi). Anak melakukan pelarian di luar lingkungan keluarga, yang mungkin melakukan hal-hal yang bersifat negatif. Keluarga tersebut tidaklah lagi berjalan statis dengan fungsi-fungsi yang ideal, runtuhlah keluarga yang harmonis pada mulanya.


Daftar pustaka
J. Goode, William. 2007. Sosiologi Keluarga. Jakarta: PT. Bumi Aksara.
 
Narwoko, J. Dwi & Bagong Suyanto. 2007. Sosiologi Teks Pengantar dan Terapan, edisi kedua. Jakarta: Kencana.

Nasikun, Dr. 2003. Sistem Sosial Indonesia. Jakarta: PT. RajaGrafindo Persada.

Ritzer, George. 2009. Sosiologi Ilmu Pengetahuan Berparadigma Ganda. Jakarta: PT. RajaGrafindo Persada.

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar